Jumat, 09 Desember 2011

tugas akhir ilmu pendidikan

Nama: Erlin
Nim: 292008236
Kelas: G

Pokok Bahasan 1


Rangkuman Pokok Bahasan 1

Hakekat Manusia dan Pengembangannya

A. Sifat Hakekat Manusia

Ø Pendidikan bukanlah sesuatu yang hanya teori saja, tapi juga praktek, dan praktek juga ada landasan dan tujuannya. Sifat pendidikan adalah filosofis normative. Filosofis artinya harus mengkaji secara mendasar, sistematis dan universal. Normatif artinya mempunyai keharusan dalam menumbuhkan dan mengembangkan sifat hakekat kemanusiaan.

Ø Sifat hakekat manusia merupakan suatu sifatdimana hal tersebut yang membedakan manusia dengan hewan, karena meliputi :

· Socrates: Manusia adalah zoon Politicon (Hewan yang bermasyarakat)

· Max Scheller: Manusia Das Kranke Tier (Hewan yang sakit)

Ø Wujud dari sifat tersebut berupa moral, kemampuan bertanggung jawab, kemampuan menyadari diri, kemampuan merasakan kenikmatan/kebahagiaan, mengetahui mana yang hak dan kewajiban, dapat merasakan kebebasan, mempunyai kata hati, serta dapat bereksistensi.

B. Dimensi – dimensi dalam hakekat manusia

- Dimensi Keindividuan : - Manusia lahir dan mempunyai suku bangsa serta adat kebudayaan tertentu.

- dapat berperan serta dalam masyarakat

- manusia dan masyarakat berusaha untuk saling memajukan dan mengembangkan diri dan kehidupannya.

- Dimensi keindividuan: - manusia merupakan makhluk monodualisme yang statusnya sebagai kholifah Allah di muka bumi ini.

- mempunyai daya cipta, rasa, karsa, intuisi, bakat yang unik, serta dapat berkembang dengan pengaruh lingkungan.

- Dimensi Kesusilaan: - manusia memiliki akal yang fungsinya untuk menentukan mana yang baik, mana yang buruk, pantas, tidak pantas dengan menggunakan pertimbangan –pertimbangan budaya yang dijunjung memungkinkan manusia untuk berbuat dan bertindak secara susila.

- Dimensi Keberagamaan: - manusia merupakan makhluk religious sebagai anugerah, yang didapat/diwarisi dari bimbingan nabi/ rasul untuk keselamatan didunia dan diakhirat.

- mempunyai kemampuan menghayati pengalaman diri dan dunianya.

- mendapatkan pengetahuan agama dari pelajaran agama, do’a-do’a, sembayang, meditasi, komitmen.

C. Pandangan mengenai hakekat manusia

Ø Agama

Dalam kepustakaan Hindu (Ciwa) : manusia dating langsung dari Tuhan sekaligus menjadi penjelmaannya

Dalam kepustakaan Budha : manusia adalah makhluk samsara yang hidupnya penuh kegelapan.

Ø Filsafat Kuno : Bahwa manusia adalah manifestasi yang komplit dan sempurna dari Tuhan YME

Ø Filsafat Pancasila : Hakekat manusia adalah makhluk monodualistik dan monopluralistik, kese;arasan, keserasian, keseimbangan, integralistik, kebersamaan dan kekeluargaan.

Ø Pendapat/pandangan pakar :

- Historis : Hakekat manusia adalah perjalanan dari dalam kandungan hingga

kemudian sampai kedalam tanah,

- Filosofi Socrates : Hakekat manusia terletak pada budinya, sementara

(Plato dan Aristoteles) berpandangan bahwa manusia terletak pada “Pikirnya”.

- Tokoka dunai Barat : Bahwa hakekat manusia mencakup semua dimensi.

- Spinoza : Hakekat manusia adalah sama dengan Tuhan yaitu Hakekat pencipta

alam semesta.

- Voltaire : Hakekat manusia sulit untuk diketahui, serta butuh waktu yang lama

untuk mengetahuinya.

- Notonagoro : Hakekat manusia adalah makhluk monodualisme, yang

mempunyai jiwa dan raga dan keduanya merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan.

- Para ahli Biologi : Hakekat manusia bertitik pada jasad ( Jasmani) yang

sependapat dengan Darwin pada Teori Evolusi.

- Segi Agama (Islam, Katolik, Kristen) : Selain jasmani dan rohani dalam

kehidupannya manusia adalah khalifah Allah yang ada campur tangan Allah didalamnya.

Kamus Pokok Bahasan 1

Hakekat : Ciri-ciri, karakteristik manusia

Dimensi : Para meter/ pengukuran, dibutuhkan untuk mendefinisikan sifat-sifat objek manusia,

Individu : Manusia perseorangan.

Pandangan : Pendapat/pertimbangan yang dijadikan pedoman, arah, petunjuk didunia.

Filsafat : Pandangan hidup seseorang/kelompok untuk konsep kehidupan yang dicita-citakan.

Pakar : Orang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang tertentu.

Paedagogi : Praktik ilmu pendidikan.

Filosofis : Pandangn hidup yang merupakan konseo dasar hidup yang dicita-citakan.

Normatif : Berpegang teguh pada norma/kaidah yang berlaku.

Zoon poloticon: Hewan yang bermasyarakat

Moral : Etika perbuatan yang baik/buruk.

Masyarakat :Kumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai kebudayaan.

Monodualisme: Jasmani dan rohani yang tak terpisahkan.

Khalifah : Utusan, pengelola.

Daya cipta : Kemampuan untuk membuat dan menciptakan.

Intuisi : Kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional.

Karsa : Daya(kekuatan) jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak.

Rasa : Tanggapan indra terhadap rangsangan saraf.

Unik : Sesuatu yang membedakan dan berbeda dengan yang lain.

Susila : Tingkah laku yang luhur.

Religius : Mengenal dekat dengan agama.

Meditasi : Praktik relaksasi yang melibatkan pengosongan pikiran dari segala macam masalah.

Ciwa : Kepustakaan hindu.

Manifestasi : Hasil yang didapat dari usaha yang dibuat.

Monopluralistik : Kenyataan bahwa ciptaan Tuhan YME berlangsung dalam situasi seimbang.

Integralistik : Suatu kumpulan yang terpadu.

Historis : Sejarah.

Rounded Rectangle: Konsep dasar ilmu pendidikanPokok Bahasan 2


Rangkuman Pokok bahasan 2

Konsep dasar ilmu pendidikan

Ilmu pendidikan: ilmu yang membahas tentang pendidikan, khususnya pendidikan anak, pendidikan sangat diperlukan bagi anak bukan hanya teori melainkan praktiknya juga, yang didalamnya guru harus dapat menyampaikan, mentransfer serta mendidik anak sehingga ia mampu dan mempunyai suatu ketrampilan untuk hidup dan menghadapi permasalahan di dalam masyarakat dan juga di kehidupannya.

A. Pendapat Para Ahli

Mudeya Harjo : Pendidikan adalah segala penanaman belajar yang berlangsung dari segala lingkungan dan sepanjang hidup serta pendidikan dapat diartikan sebagai penjajaran yang diselenggarakan disekolah sebagai lembaga pendidikan formal.

Muhaibi Syah : Dalam pengertian luas pendidikan diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu, sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.

Poerbakawaca & Harahab : Pendidikan meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya dan ketrampilannya kepada kaum muda sebagai usaha untuk menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmani maupun rohani.

John Dewey : Pendidikan merupakan proses pembentukan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya piker/daya intelektual maupun day emosional/ perasaan yang diarahkan kepada tabiat manusia dan tabiat sesamanya.

B. Fungsi Pendidikan

- Manusia memerlukan bantuan

Dapat kita ketahui bahwa sudah sejak kecil manusia memerlukan orang laindalam belajar. Hingga semakin dewasa anak tahu apa itu insting. Insting adalah kemampuan mengamati sekitar dan merasakan secara psiko-fisis (jasmani rohani) tentang objek-objek tersebut tanpa memerlukan bantuan orang lain. Tapi semakin tumbuhnya dan berkembangnya, diri manusia tidak bisa hanya mengandalkan insting. Disini pendidikan berfungsi untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia, bukan hanya individu tapi juga dalam kelompok dan masyarakat, maka dari itu manusisa membutuhkan bantuan dari orang lain. Pendidikan juga dapat berfungsi mempertebal iman karena sebagai individu manusia percaya akan adanya kehidupan lanjut setelah kita hidup didunia. Selain itu manusia juga mempunyai ikatan dalam hal kerjasama dengan sesama manusia, yang itu semua sering disebut dengan kehidupan bermasyarakat, yang ruang lingkupnya sangatlah luas dan banyak ragamnya.

- Pendidikan dalam praktek

Dalam pelaksanaannya, yang da dalam pendidikan intinya adalah pendidik dan peserta didik. Disini yang dimaksud pendidik adalah orang dewasa yang mampu mendidik/ mengajarkan ilmu baik perorangan maupun kelompok. Sedangkan pesrta didik adalah anak/seorang yang belum mencapai kedewasaan. Pendidikan disini sangatlah penting untuk membimbing anak didik sehingga anak didik semakin bisa menuju kedewasaan . Keadaan anak awal sering mempunyai karakteristik meniru individu lain(imitasi) dan juga penasaran dengan hal-hal tertentu. Dalam intinya, kasih saying adalh sumber segala kegiatan pendidikan. Dalam kegiatan pendidikan juga memuat kesabaran dan kebijaksanaan, yang sumbernya dari kasih saying itu sendiri. Dalam pendidikan juga mengenal apa itu kebijaksanaan, kebijaksanaan adlah kemampuan menentukan pilihan yang tepat dari berbagai macam alternatif atau kemungkinan memecahkan masalah. Salah satu tujuan pendidikan adalah agar anak didik mampu mencapai tingkat kedewasaan, oleh karena itu ada pula yang disebut dengan “upaya pendidikan” seperti anjuran atau saran oleh pendidik, perintah atau larangan, pujian, penghargaan, bahkan hukuman, serta sikap dan perbuatan pendidik sebagai suri tauladan, itu merupakan contoh-contoh dari upaya pendidikan. Dalam praktek pendidikan diharapkan pendidik tidak melupakan respon anak didik, karena itu dapat dijadikan “Feel Back” untuk tindakan-tindakan pendidikan selanjutnya, dan sebagai pendidik harus selalu sensitive serta tanggap akan respon anak didik tersebut.

Pendidikan dalam arti khusus

- Pedagogic adalah ilmu pengetahuan/ilmu pendidikan anak yang mempelajari bagaimana membimbing dan mengembangkan anak supaya hidup mandiri obyek dalam pedagogic adalah situasi pendidikan.

- Situasi pendidikan adalah keadaan dimana orang dewasa saling berinteraksi dengan anak yang belum dewasa.

Pendidikan dalam arti luas

- Ilmu pendidikan adalah suatu tindakan dan kemampuan manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupannya yang meliputi kebahagiaan, kesalarasan dan kesejahteraan hidup. Obyek dalam hal ini adalah Andragogi, andragogi merupakan pendidikan pembelajaran yang dilakukan oleh orang dewasa yang melibatkan orang lain.

Kamus Pokok Bahasan 2

- Generasi : angkatan turun temurun

- Konsep : hal yang paling menjadi dasar

- Obyek : hal yang sedang dikaji

- Rohani : jiwa, roh, pikiran

- Metode : cara yang diterapkan/digunakan

- Tahapan : tingkatan, jenjang

- Fenomenologis : ilmu tentang perkembangan kesadaran

- Dialektis : bersangkutan dengan alektika

- Ontology : objek penalaran yang mengamatinya dengan alat indra

- Aksiologi : adanya nilai guna objek/pengetahuan tersebut

- Kebudayaan : hasil kegiatan/penciptaan batin (akal budi)

- Esentialisme : mewariskan kebudayaan

- Progresivisme : perubahan secara cepat dan berstruktur

- Perenialisme : pengetahuan adalah dasar pokok pendidikan

- Substansi : isi, watak yang sebenarnya dari sesuatu

- Rekonstruktivisme : membangun kembali mulai dari diri sendiri (tatanan baru selaras IPTEK)

- Belajar : berusaha memperolah kepandaian/ ilmu.

- Insting : kemampuan mengamati dan merasakan objek-objek disekitarnya.

- Psiko-fisis : jasmani,rohani.

- Individu : manusia perseorangan.

- Kelompok : kumpulan agregat social yang saling tergantung dan berinteraksi.

- Masyarakat : sejumlah manusia banyak yang terikat kebudayaan yang sama.

- Iman : percaya secar lisan, pikiran, hati, dan perbuatan.

- Pendidik : orang dewasa yang mampu menyampaikan dan menanamkan ilmu.

- Imitasi : peniruan(duplikatisasi).

- Anak didik : anak yang belum dewasa yang diserahkan untuk dibimbing pendidik.

- Bijaksana : arif, tajam pikiran, selalu menggunakan akal budinya.

- Alternatif : cara lain.

- Masalah : sesuatu yang harus diselesaikan / dipecahkan.

- Respon : tanggapan/ balasan dari suatu stimulus.

- Sensitif : peka, cepat menerima rangsang.

Pokok Bahasan 3




































Rangkuman Pokok Bahasan 3

Filsafat Pendidikan

A. Kebutuhan teoritis pendidikan atas penerapan filsafat

Pendidikan sangantlah penting untuk menunjang kehidupan manusia dan usaha penghasil kebudayaan di era yang akan dating yang ditularkan dari generasi secara terus menerus dan selalu ada penambahan tanpa menghilangkan konsep dasarnya, penerapan filsafat pendidikan dibagi menjadi empat pokok pembahasan teori, yaitu :

- Teori kenyataan : Menitik beratkan tentang dunia pada kenyataannya.

- Teori pengetahuan : Pendapat tentang suatu sumber, obyek dan batas pengetahuan yang kebenarannya masih ada kaitannya dengan kebenaran yang dahulu.

- Teori nilai/norma : pendapat mengenai makna yang diciptakan manusia secara manusiawi, yang fungsinya sebagai pengendali, penegas dan penegak kebaikan.

- Teori filsafat tentang hakekat manusia : pendapat mengenai manusia diciptakan Tuhan berbeda dengan hewan karena mausia memiliki kemampuan untuk :

Ø Berfikir - Kesatuan bio-sosial.

Ø Kesatuan jiwa dan raga - Bertanggung jawab.

Ø Bersosialisasi - Mempunyai hati nurani.

Ø Rohani - Makhluk berdosa.

B. Antara teori mendidik dan penerapan filsafat kedalam pendidikan.

Teori dan penerapannya, filsafat pendidikan mempunyai tujuan, metode, serta tahap-tahapan filsafat.

- Tujuan filsafat : mengetahui secara detail bagaimana fungsi bahasa untuk menafsirkan pengalaman manusia, dengan bahasa itu filsafat dapat menggali pengetahuan manusia.

- Metode filsafat : cara yang digunakan agartransformasi pengatahuan dapat tercipta, itu dapat ditempuh melalui dialog/percakapan.

- Tahapan filsafat : pengelompokan ide-ide yang mendasari suatu masalah dan memandang suatu masalah tidak hanya dari segi obyektif saja, yang didalamnya terdapat beberapa hubungan antara lain :

Ø Antara filsafat pendidikan dan ilmu pendidikan teoritik(pedagogik)

Ø Antara ilmu pendidikan praktis dan ilmu pendidikan teoritik.

Ø Antara pengumpulan data empiris dan ilmu pendidikan teoritik.

- Metode-metode filsafat :

Ø Metode kritis - Metode transcendental

Ø Metode intuitif - Metode fenomenologis

Ø Metode skolatif - Metode dialektis

Ø Metode geometris - Metode neo-positivistik

Ø Metode empiris - Metode analitik-bahasa

C. Pandangan aliran-aliran filsafat tentang masalah pendidikan

- Pandangan pendekatan aliran :

Ø Ontologi : yaitu adanya obyek penalaran meliputi semua aspek kehidupan yang dapat diamati oleh alat/panca indra manusia, yang menyebutka juga bahwa ilmu adlah pengetahuan empirik.

Ø Epistimologi : yaitu metode yang digunakan untuk mengkaji serta mengamati objek tersebut.

Ø Aksiologi : yaitu adanya nilai guna dari obyek/pengetahuan itu.

Ø Antropologi kefilsafatan : menerangkan bahwa manusia berbeda dengan benda-benda mati dan berbeda dengan makhluk lainnya sehingga mampu membuat seusuatu kebuadayaan sebagai hasil pendidikan

- Aliran filsafat dan mahzab

Ø Naturalisme : yaitu aliran yang pada dasarnya menitikberatkan bahwa semua berawal baik ari Sang Pencipta, dan menjadi buruk ditangan manusia, dan didalamnya terdapat pendapat bahwa pendidikan tidak ada kaitannya.

Ø Idealisme : yaitu aliran dimana ide-ide adalah inti dari semua kehidupan didunia ini dan ide itu bersifat rohani/intelegasi yang paling abadi.

Ø Realisme : Aliran yang berpendapat bahwa dunia jasmani dan rohani merupakan sesuatu yang paling asli an abadi.

Ø Pragmatisme : Aliran ini merupakan aliran yang sifatnya mutlak(absolut) tergantung pada kemampuan manusia.

Ø Eklektisme : Aliran yang pada dasarnya menggabungkan teori-teori yang inti-itninya terdapat pada keempat aliran diatas.

Ø Eksistensialisme : Aliran yang mendasarkan pada cara dan kemampuan untuk menghormati individu yang menekankan pilihan kreatif, subyektifitas pengalaman manusia, dan tindakan konkrit dari keberadaan manusia.

- Pandangan filsafat pendidikan dengan substansi sosial budaya

Ø Mahzab esensialisme : adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik tentang gajala disekolah-sekolah.

Ø Mahzab progresivisme : aliran yang berpendapat bahwa pengetahun yang tepat an benar pada masa sekarang mungkin tidak benar dimasa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak, bukan memfokuskan pada materi atau guru.

Ø Mahzab perenialisme : aliran yang memandang bahwa kehidupan sekarang banyak mengalami kekacauan dan juga kerusakan terutama dalam bidang moral. Intelektual, dan sosio-kultura, oleh karena itu diperlukan usaha untuk menanggulangi hal tersebut, dengan cara menggunakan kembali nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan yang kukuh, kuat dan teruji dalam kehidupan.

Ø Mahzab rekonstruktivisme : aliran yang memikirkan dan melibatkan diri denga maslah-maslah masyarakat yang ada sekarang dengan tujuan membangun kembali hal-hal yang dulunya sudah ada menjadi lebih baru.

Kamus Pokok Bahasan 3

Filsafat : Pengetahuan dan penyalidikan dengan akal budi mengenai hakekat yang ada.

Generasi : Angkatan turun temurun.

Konsep : Hal yang paling menjadi dasar.

Obyek : Hal yang sedang dikaji.

Nilai/norma: Ukuran aturan yang dibuat dan mengikat dan harus dipatuhi.

Sosialisasi : Proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal lingkngannya.

Rohani : Jiwa, Ruh, Pikiran.

Bio-Sosial :

Metode : Cara yng digunakan/diterapkan.

Tahapan : Tingkatan, jenjang.

Transformasi: Perubahan meliputi rupa, bentuk, fungsi.

Objektif : Keadaan yang sebanarnya tanpa ada pendapat dan pandangan pribadi.

Empiris : Keadaan yang bergantung pada bukti yang teramati oleh indra.

Kritis : Usaha membandingkan sesuatu hingga ada hasil dengan sadar dan kecerdasan.

Intuitif : Bersifat intuisi berdasar bisikan gerak hati.

Skolatis :

Geometris : Bersangkut paut dengan geometri.

Transendental: Menonjolkan hal-hal yang bersifat kerohanian, gaib.

Fenomenologis: Ilmu tentang perkembangan kesadaran.

Dialektis : Berssangkutan dengan dialektika.

Neo-positivistik:

Analitik :

Ontologi : Obyek penalaran yang mengamatinya dengan alat indra.

Epistimologi: Metode yang digunakan untuk mengkaji objek tersebut.

Aksiologi : Adanya nilai guna objek/pengetahuan tersebut.

Antropologi Kefilsafatan: Hasil dari mengkaji objek tersebut menjadi(kebudayaan).

Kebudayaan: Hasil kegiatan/penciptaan batin(akal budi).

Mahzab : Jalan yang dilalui dan dilewati yang menjadi tujuan baik konkrit/abstrak.

Naturalisme: Aliran yang memfokuskan semuanya berawal baik dari sang Pencipta.

Idealisme : Isi dunia yang nyata dan abadi adalah ide-ide saja.

Intelegasi :

Realisme : Dunia jasmani dan rohani merupakan sesuatu yang asli dan abadi.

Pragmatisme: Aliran yang tidak mutlak(absolute) tergantung kemampuan manusia.

Mutlak : Seutuhnya, mengenai segalanya.

Eklektisme : Penggabungan inti sari aliran naturalism, idealism, realism, pragmatisme.

Kreatif : Mengandung daya cipta dengan kecerdasan, imajinasi dan kemampuan.

\Subjektifitas: Hanya mengacu pada satu pihak yan mutlak.

Konkrit : Dapat dilihat kenyataannya dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pandangan : Pendapat/pandangan yang dijadikan pedoman, arah, petunjuk.

Substansi : Isi, watak yang sebenarnya dari sesuatu.

Esensialisme: Menwariskan kebudayaan.

Konservatif: Bersikap mempertahankan keadaan, tradisi yang berlaku.

Kritik : Kecaman, tanggapan terhadap baik buruk suatu hasil/karya.

Progresivisme: Perubahan secara cepat dan berstruktur.

Perenilisme: Pengetahuan adalah dasar pokok pendidikan.

Moral : Ajaran tentang baik buruk yang diterima umum tentang budi pekerti,sikap.

Intelektual : Mempunyai kecerdasan tinggi, berakal, cerdas berdasar ilmu pendidikan.

Sosio-kultural: Berkenaan dengan segi social dan budaya masyarakat.

Rekonstruktivisme: Membangun kembali mulai dari diri sendiri yang selaras IPTEK.

Pokok Bahasan 4

Rounded Rectangle: Ilmu Pendidikan TeoritisRounded Rectangle: Pedagogik teoritis










Rounded Rectangle: - Memiliki objek material dan farmasi. - Memiliki sistematika. - Memiliki metode.Rounded Rectangle: Kedewasaan sebagai tujuan pendidikanimplikasi teoritik dan praktis

Rangkuman Pokok Bahasan 4

Ilmu Pendidikan Teoritis

A. Ilmu pendidikan sebagai teori

Dalam penekanannya, ilmu pendidikan teori disini adalah mempelajari anak didik yang belum dewasa hingga nantinya diharapkan dapat menuju kedewasaan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik itu.

Beberapa manfaat ilmu pendidikan sebagai teori

- Pedoman untuk apa dan bagaimana nantinya tujuan yang akan dicapai.

- Paham akan teori pendidikan, mana baik mana buruk, dan pantas tidak pantas.

- Tolok ukur sampai dimana kemampuan peserta didik.

Kesalahan dalam pendidikan

Terbagi menjadi 3 golongan :

1. Kesalahan tekhnis : kesalahan dalam menerapkan prinsip-prinsip yaitu teori-teori itu sendiri.

2. Kesalahan struktur kepribadian : kesalahan yang dilakukan oleh pendidik itu sendiri.

3. Kesalahan konseptual : kurang memfokus dan menitikberatkan pada hal/masalah-masalah yang sifatnya teoritis.

B. Pendidikan dalam ruang lingkup makro dan mikro

- Makro : ruang lingkup yang akan dikaji dan dianalisis meliputi skala yang sangat luas dan sifatnya umum.

- Mikro : ruang lingkup yang akan dikaji dan dianalisis meliputi skala kecil yang sifatnya terdapat pengkhususan.

Dari dua lingkup tersebut nentinya kita akan mengetahui bahwa, dari dua hal tersebut ternyata dapat dan harus diamati/dilihat dari dua segi yaitu :

Ø Manusia sebagai individu juga masyarakat, yang didalamnya terdapat :

-Pendidikan individu.

-Pendidikan kelompok.

Ø Tanggung jawab pendidikan, yang didalamnya memuat :

-Tanggung jawab keluarga.

-Tanggung jawab bersama.

C. Ilmu pendidikan sebagai ilmu teoritis dan praktis

- Memiliki objek material dan objek formal

- Memiliki sistematika, yang secara teoritis sistematika tersebut dapat dibagi menjadi 3 ditinjau dari :

Ø Pendidikan sebagai fenomena manusiawi.

Ø Pendidikan sebagai upaya sadar.

Ø Pendidikan sebagai gejala manusiawi dan upaya sadar untuk mengantisipasi perkembangan social budaya masa depan.

- Memiliki metode, yang dapat digolongkan menjadi :

Ø Metode normatif : memfokuskan pada penentuan konsep baik dan buruk.

Ø Metode eksplanatori : mengetahui dari mana kekuatan yang mempengaruhi keberhasilan.

Ø Metode teknologis : pengungkapan cara agar tujuan tercapai.

Ø Metode deskriptif-fenomenologis : mengkaji fakta pendidikan secara konkret dan historis agar kegiatan pendidikan jelas.

Ø Metode analisis-kritis : menganalisa istilah-istilah tentang konsep dan teori.

D. Pedagogik Teoritis

Merupakan ilmu pengetahuan untuk mendidik yang misinya diambil dari ilmu filsafat pendidikan dan pendidikan empiric, yang digunakan sebagai upaya baru untuk memperbaiki metode-metode ilmu pendidikan yang sudah ada sebelumnya, serta juga kualitasnya dalam kehidupan manusia dalam hakekat pendidikan.

Pedagogik teoritis terbagi atas :

- Esensi pendidikan : merupakan kenyataan dalam cara/hal mendidik yang mengamati gejala-gejala serta dasar-dasar dalam mendidik dan dalam kaitannya pendidikan, yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, lalu meluas kesuatu masyarakat.

- Unsur-unsur situasi mendidik atas dasar fenomena pergaulan : disini pedagogic teoritis menganalisis dan mengkaji sistematika dan persoalan secara teratur dan terperinci.

Unsure-unsur yang mengandung situasi mendidik antara lain :

-kehadiran anak sebagai fakta/realitas untuk menjadi dewasa.

-kehadiran orang dewasa sebagai seorang pendidik.

-interaksi antar anak dan orang dewasa.

-penerapan hubungan pendidik dan peserta didik.

-tindakan pendidikan serta prosesnya.

-tujuan pendidikan serta system yang digunakan.

Pendidikan dan terdidik dalam situasi pendidikan.

-Dalam hal ini lebih memfokuskan bahwa tujuan mendidik ialah pencapaian kedewasaan peserta didik baik itu diluar lingkup pendidikan mikro maupun makro, yang semuanya itu dipengaruhi oleh :

- Pergaulan

- situasi pergaulan

- bagian dunia orang dewasa yang disukai anak didik

- proses pergaulan

- Kedewasaan sebagai tujuan umum pendidikan

Seperti hal diatas, disini lebih ditekankan pada pembagiannya, yaitu proses mendidik/situasi pendidikan mempunyai tujuan khusus yang terbatas yaitu tujuan incidental/aksidential yang merupakan bagian dari proses/situasi khusus.

Dalam hal ini cirri-ciri kedewasaan sebagai kualitas normatif yaitu :

-Kedewasaan yang bersifat statis

-Bertanggung jawab akan diri sendiri.

-Individu sebagai diri pribadi menyadari stabilitasnya.

-Bersedia diuji/ diadili dalam pergaulan hidup.

-Bergaul secara konstruktif.

-Kemampuan pencapaian norma-norma secara pribadi.

- Implikasi Teoritik dan Praktis.

Penerapan ilmu pendidikan sering lebih meluas dari pada penerapan ilmu social bagi anak, itu disebabkan karena ilmu social hanya mengamati masyarakat untuk individu, berbeda dengan ilmu pendidikan yang didalamnya ada kaitannya dengan psikologi, filsafat, social juga, untuk pengamatan dan penerapan individu dengan individu, ataupun dengan masyarakat juga.

Kamus Pokok Bahasan 4

Ilmu : pengetahuan tentang suatu bidang ynag berguna untuk menerangkan gejala.

Teoritis : berdasar, dan lebih menekankan pada teori-teori.

Dewasa : sampai umur, akil balig(bukan kanak-kanak atau remaja)

Pendidik : orang dewasa yang mempunyai kemampuan mendidik.

Manfaat : mempunyai kegunaan, faedah.

Tujuan : arah, haluan, jurusan yang dituju.

Prinsip : asas kebenaran yang menjadi pokok untuk berpikir dan bertindak.

Konseptual: berhubungan dengan dasar konsep.

Fokus : perbuatan pemusatan (perhatian, pandangan)

Struktur : cara sesuatu disusun atau dibangun.

Makro : berkaitan dengan ukuran yang besar atau luas.

Mikro ; berkaitan dengan ukuran yang kecil, sempit.

Skala : ukuran berupa garis, jarak untuk menetukan tingkatan/ banyaknya sesuatu.

Pendidikan : proses pengubahan sikap dan tat laku sesorang untuk mendewasakan diri.

Lingkup : ruang cakupan.

Individu : manusia perseorangan.

Masyarakat : sejumlah manusia banyak yang terikat kebudayaan yang sama.

Tanggung jawab: kewajiban menanggung sesuatu.

Praktis : mudah, berdasarkan praktik.

Objek : sesuatu yang menjadi pokok pembahasan.

Material : barang yang akan dipakai untuk membuat sesuatu.

Formal : sesuai dengan peraturan yang sah.

Sistematika: pengetahuan mengenai klasifikasi (pengelolaan)

Fenomena : hal-hal yang dapat disaksikan panca indra tentang sesuatu gejala.

Metode : cara yng digunakan.

Normatif : berpegang teguh pada norma/kaidah yang berlaku.

Eksplanatori : penelitian untuk mengujiteori/hipotesis untuk memperkuat/menolak.

Teknologis : bersangkutan dengan teknologi pembaruan.

Kritis : usaha membandingkan sesuatu hingga ada hasil dengan kecerdasan.

Empirik :

Kualitas : mutu.

Pedagogik : ilmu pendidikan.

Esensi : hakikat inti yang pokok.

Unsur : bagian penyusun pendidikan.

Mengkaji : memeriksa, menyelidiki, memikirkan menguji dan menelaah.

Realitas : kenyataan.

Interaksi : saling berhubungan, timbal balik.

System : seperangkat unsure yang saling berkaitan sehingga membentuk totalitas untuk sebuah tujuan.

Fokus : tertuju pada sesuatu tanpa menghiraukan sekitarnya.

Proses : kegiatan dari awal sampai akhir dengan hasil.

Insidential : sesuatu yang menjurus pada peristiwa/kejadian.

Statis : keadaan diam, tidak bergerak dan tetap.

Stabilitas : kemantapan, keseimbangan menciptakan sesuatu.

Diuji : dicoba untuk diketahui mutunya.

Bergaul : hidup berteman (bersahabat)

Konstruktif: bersangkutan dengan konstruksi yang membina,membangun.

Implikasi : keterlibatan.

Pokok Bahasan 5


Rounded Rectangle: Kemandirian dalam belajarRounded Rectangle: Belajar sepanjang hayatRounded Rectangle: Tut wuri handayaniRounded Rectangle: Perkembangan peserta didikRounded Rectangle: Masyarakat

Rangkuman Pokok Bahasan 5

A. Landasan Pendidikan

Landasan filosofis

- Merupakan landasan yang bersumber dari pandangan –pandangan dalam filsafat pendidikan, menyangkut keyakinan tentang sumber nilai, hakikat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan.

- Ada 4 aliran dalam filsafat yang terkenal sampai sekarang, yaitu:

- Esensialisme : adalah mahzab pendidikan yang mengutamakan bahan ajaran teoritik(liberal arts) atau bahan ajar esensial.

- Perenislisme : adalah aliran pendidikan yang mengutamakan bahan ajaran konstan(perennial) yakni kebenaran.

- Pragmatisme & progresivisme : adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, dibidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.

- Rekonstruksionisme : adalah mahzab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.

Landasan Sosiologis

- Dasar sosiologis berkenaan dengan perlambangan/kebutuhan dan karakteristik masyarakat sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses social dan pola-pola interaksi social didalam system pendidikan.

- Ada 4 bidang didalam sosiologi pendidikan, yaitu :

1. Hubungan system pendidikan dengan aspek masyarakat lain.

2. Hubungan kemanusiaan.

3. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.

4. Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok social lain didalam komunitasnya.

- Masyarakat Indonesia sebagai landasan sosiologis system pendidikan nasional.

Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa kemasa telah mempengaruhi system pendidikan nasional.

Landasan Kultural

- Merupakan landasan dimana kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi kegenerasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun informal.

- Kebudayaan sebagai landasan sistem pendidikan nasional, pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik disetiap daerah itu, melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari bhineka tunggal ika.

Landasan Psikologis

- Landasan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak.

- Perkembangan peserta didik sebagai landasan psikologis pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukankeputusan/ tindakan yang tepat dalam memantau proses tumbuh kembangkan secara efektif dan efisien.

Landasan Ilmiah dan Teknologis

- Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidikan, untuk menghadapinya teknologi dari berbagai bidang kedalam penyelenggaraan pendidikan.

- Perkembangn IPTEK sebagai landasan ilmiah

IPTEK merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimulai pada permulaan kehidupan manusia.

B. Asas - Asas Pokok Pendidikan

Merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berfikir, baik pada tahap perencanaan pendidikan. Khusus di Indonesia terdapat beberapa asas pendidikan yang member arah dalam merancang dan merencanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah asas tut wuri handayani, asas belajar sepanjang hayat, dan asas kemandirian dalam belajar.

Kamus Pokok Bahasan 5

- Patriotism : sikap untuk selalu mencintai/membela tanah air.

- Nasionalisme : suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu dimana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama didalam suatu bangsa.

- Dimensi : pengukuran yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sifat – sifat suatu objek.

- Kurikulum : seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran.

RINGKASAN BAB 6

FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN (PENDIDIK & PESERTA DIDIK)

A. Tujuan Pendidikan

Adalah membantu perkembangan anak untuk mencapai tingkat kedewasaan scr biologis dan pedagogis.

§ Menurut Zahara Idris(1987) adalah memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya.supaya dapat mengembangkan potensi fisik,emosi,sikap,moral,pengetahuan dan ketrampilan agar menjadi manusia dewasa

§ Menurut M, Noer Syam (1984) adalah agar seseorang mempunyai kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.

§ Menurut Ki Hadjar Dewantara adalah agar anak sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

1. Hirarki Tujuan Pendidikan Menurut Soemitro

a. Tujuan umum pendidikan/tujuan akhir disebut juga tujuan yang disempurnakan baik jasmani maupun rohani.Pribadi dewasa memiliki karakteristik sbb:

ü Memahami,mengerti dan mencintyai dirinya(individualitas)

ü Memahami,mencintai dan mengerti orang lain(sosialitas)

ü Menyadari,memiliki norma kesusilaan dan nilai-nilai kemanusiaan.

ü Bertindak dan berbuat sesuai dengan kesusilaan,nilai-nilai hidup atas tanggung jawab sendiri demi kebahagiaan dirinya dan kebahagiaan masyarakat(moralitas)

b. Pengkhususan tujuan umum yaitu tujuan setiap lembaga pendidikan misalnya tujuan pendidikan TK,SD,SMP,SMA.

Adapun macam-macam tujuan khusus pendidikan terdiri dari:

ü Tujuan sementara yaitu tujuan yang dicapoi anak pada masa fase-fase tertentu.

ü Tujuan tidak lengkap yaitu tujuan yang berkaitan dengan aspek kepribadian tertentu

ü Tujuan Intermedier yaitu tujuan sebagai alat untuk mencapai tujuan lain demi kelancaran pendidikan selanjutnya.

ü Tujuan Insidental yaitu tujuan pendidikan yang bersifat sesaat/seketika

2. HIrarki Tujuan Pendidikan Di Indonesia

a. Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan budi pekerti luhur,memiliki pengetahuan dan ketrampilan,kesehatan jasmani dan rohani,kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan.

Ada 6 aspek yang terkandung dlm tujuan pendidikan nasional:

1. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME

2. Berbudi pekerti luhur

3. Memiliki pengetahuan dan ketrampilan

4. Sehat jasmani dan rohani

5. Memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri

6. Memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

b. Tujuan Institusional

Adalah perumusan secar umuym pola perilaku dan pola kemampuannya yang harus dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi dan tugas yang dipikiul oleh lembaga dalam rangka menghasilkan lulusan dengamn kemampuan dan ketrampilan tertentu.

Tujuan nasional dipengaruhi oleh:

Ø tujuan pendidikan nasional

Ø kekhususan setiap lembaga

Ø tingkat usia peserta didik

c. Tujuan Instruksional

Adalah rumusan secara terinci apa saja yang harus dikuasai oleh peserta didik sesudah dia mengikuti kegiatan pengajaran sesuai dengan pokok bahasan yang bersangkutan.

3. Taksonomi Tujuan Pendidikan

Adalah klasifikasi atau golongan segi-segi kepribadian yang dapat dimili oleh peserta didik setelah dia mengikuti proses belajar-mengajar.

Taksonomi tujuan pendidikan,yang disusun oleh:

a. Bloom tentang aspek penalatran (aspek kognitif)

b. Krothwol tentang aspek sikap dan nilai (aspek afektif)

c. C. Simspson tentang aspek ketrampilan psikomotor.

Ø Kognitif

Kawasan kognitif meliputi:

ü Pengetahuan

ü Pemahaman

ü Penerapan

ü Analisis

ü Sintesis

ü Penilaian

Ø Afektif

Kawasan afektif meliputi:

ü Kesadaran

ü Partisipasi

ü Penghayatan

ü Pengorganisasian

ü Karakterisasi

Ø Psikomotor

Kawasan yang dikembangakan oleh Harrow yaitu:

ü Gerakan Refleks

ü Gerakan dasar

ü Kemampuan perseptual

ü Kemampuan jasmani

ü Gerakan-gerakan terlatih

ü Komunokasi nondeskursit

B. Pendidik

Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan bim,bingan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, gagar mencapai tingkat jedewasaan(mampu berdiri sendiri) memenuhi tugasnya sbg makhluk Tuhan,makhluk individu yang mandiri dan makhluk social.

1. Pendidik Kodrat

Adalah orang dewasa yang mempunyai tanggung jawab terhadap anak terutama adalah orang tuanya,karena mereka yang mempunyai hubungan darah dengan anak.

2. Pendidik Jabatan

Adalah Pendidik disekolah,seperti guru,konselor dan administrator

3. Hakikat Pendidik

Hakikat pendidik menurut T.Raka Joni(1978) sbb:

A. Pendidik sebagai agen pembaharuan

B. Pendidik adalah pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat

C. Pendidik sebagai fasilitator

D. Pendidik bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar peserta didik

E. Pendidik dituntut untuk menjadi contoh dalam pengelolaan proses belajar-mengajar

F. Pendidik bertanggung jawab secara professional untuk terus-menerus meningkatkan kemampuannya

G. Pendidik menjunjung tinggi kode etik professional

4. Peranan Pendidk

Pendidik adalah satu faktor yang penting dalam pendidikan,terutama karena dia bertugas mengalihkan pengetahuan dan ketrampuilan kepada peserta didik agar mereka mampu menyerap,menilai,mengembangkan scr mandiri ilmu yang dipelajarinya.

Pendidik mempunyai peranan sbb:

ü Sebagai komunikator

ü Sebagai fasilitator

ü Sebagai motivator

ü Sebagai administrator

ü Sebagai konselor

5. Peranan Pendidik Menurut KI Hadjar Dewantara

6. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidik mempunyai poerana seprti berikut ini :

ü Ing ngarsa sung tulada(jika didepan menjadi contoh)

ü Ing madya mangun karsa( jika ditengah membangkitkan hasrat untuk belajar)

ü Tut Wuri Handayani( jika ada dibelakang member dorongan)

Pendidik dituntut untuk:

ü Menguasai bahan yang akan diajarkan

ü Memeiliki kemampuan untuk mengajar dapat merencanakan melaksanakan dan mengevaluiasikan suatu program atau unit pelajaran

ü Mempunyai minat untuk mengajarkan ilmunya

C. Peserta Didik

a. Hakikat Peserta Didik

ü Peserta didik adalah pribadi yang sedang berkembang

ü Peserta didik bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri sesuai dengan wawasan pendidikan seumur hidup

ü Peserta didik adalah pribadi yang memiliki potensi baik fisik maupun psikologis yang berbeda-beda sehingga masing-masing merupakan insan yang unik

ü Peserta didik memerlikan pembinaan individual dan perlakuan yang manusiawi

ü Peserta didik pada dasarnya merupakan insane yang aktif menghadapi lingkungannya

b. Perbedaan Individual

Perbedaan individual disebakan oleh beberapa faktor yaitu:

ü Faktor kemampuan dasar terdiri atas faktor kemampuan dasar umum yang disebut inteligensi dan kemampuan dasar khusus yang disebut aptitude atau bakat.

ü Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan individu sangat bervariasi yakni lingkungan alam sekitar(lingkungan keluarga,sekolah,masyarakat)

ü Faktor kepribadian yang berpengaruh dalam perkembangan meliputi sikap,minat,motivasi,sosialitas dan pandangan hidup.

RINGKASAN BAB 7

FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN

( ALAT PENDIDIKAN & LINGKUNGAN PENDIDIKAN)

A. Alat Pendidikan

Pengertian alat pendidikan adalah suatu perbuatan atau situasi yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.

Ø Alat Pendidikan dapat dibedakan sbb:

a. Alat pendidikan yang bersifat rohaniah(normatif)

Berfungsi preventif(pencegahan)dan represif (reaksi setelah ada perbuatan)keduanya dapat bersifat positif dan negative

· Alat pendidikan normatif yang preventif dan positif yakni keteladanan,anjuran,suruhan,pengarahan dan pembiasaan.

· Alat pendidikan normatif yang preventif dan negative yakni contoh untuk dijauhi,peraturan yang memberi larangan dan pengawasan.

· Alat pendidikan yang normatoif yang represif dan positifyakni isyarat tanda setuju(anggukan),kata-kata setuju,kata-kata puas,pujian,hadiah

· Alat pendidikan normative yang represif dan negative yakni isyarat tanda tidak setuju,kata-kata tidak setuju,teguran,kecaman,ancaman,hukuman

b. Alat pendidikan yang bersifat kebendaan

1. Arti dan Peranan Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan pendidik dalam pelaksanaan pendidikan,sarana pendidikan meliputi ruangan belajar,peralatan dan media pendidikan.

2. Media Pendidikan dari Peranannya

Media pendidikan adalah perangkat lunak dan atau perangkat keras yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar.

Media pendidikan mempunyai peranan penting dalam proses belajar-mengajar:

a. Dapat mengatasi perbedaan pengalaman pribadi peserta didik

b. Dapat mengatasi verbalisme

c. Membangkitkan minat peserta didik

d. Mendorong rasa ingin tahu peserta didik sehingga merangsang kegiatan belajar

e. Dapat mengatasi keterbatasan waktu dan tempat

3. Alat Pengajaran (alat Pendidikan yang Bersifat Kebendaan)

Alat pendidikan sebagai alat pengajaran diklasifikasikan sbb:

a. Berdasarkan pemakiannya dibedakan atas alat pengajaran individual,contohnya:buku pelajaran dan pengajaran klasikal seperti papan tulis dan peta.

b. Berdasarkan sifat keperagaan/pengalaman dibedakan atas alat pengajaran/peraga langsung(bendanya sendiri atau keadaan/peristiwa yang nyata),contohnya; model dan gambar

c. Berdasarkan cara penyampaian pesan/pengajaran dibedakan atas alat/media cetak,misalnya buku pelajaran dan media elektronik,seperti kaset,film,dan alat media lainnya

d. Berdasarkan fungsinya dalam proses belajar yg terdiri dari:

· Alat utk peragaan seperti gambar dan flipchart

· Alat utk memberi pengertian seperti alat utk percobaan fisika(mikroskop,tabung kaca)

· Alat utk latihan spti buku kerja dan alat olah raga

· Alat utk ekspresi spti alat music dan gambar utk membuat karangan

· Alat utk belajar sendidri sptio modul dan computer

B. Lingkungan Pendidikan

Lingkungan meliputi Lingkungan fisik dan lingkungan social.Manusia dpt dikuasai dan membiarkan diri dikuasai oleh lingkungan fisik,kecuali itu dia dapat pula menyesuaikan diri atau menguasai lingkungan fisiknya,contoh:

· Jika seseorang sulit belajar dikamar yang panas dan byk nyamuk hingga dia pergi tidur maka hal ini berarti dia dikuasai oleh lingkungan.

· Jika dia menyemprot kamar tersebut dengan obat nyamuk dan dipasangnya kipas angin shg hawa kamar terasa sejuk yg mengakibatkan dia dpt belajar dg tekun,hal iniberarti dia dpt menguasai lingkungan.

Lingkungan dpt berupa hal-hal yg nyata dan dapat diamati spti tumbuh-tumbuhan,binatang,manusia.

Lingkungan yang bersifat abstrak spti situasi politik,ekonomi,agama,adat-istiadat dan kebudayaan.

Ada tiga macam lingkungan dilihat dr tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan yakni lingkungan keluarga,lingkungan sekolah,lingkungan masyarakat


ARTIKEL KAJIAN KRITIS


Artikel:

PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL

Oleh Amirul Mukminin

Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Amirul Mukminin
Saya Dosen di UPT - Kebahasaan UNJA/ASM Jambi, Manager LPK Bahasa Inggris-MEC
Tanggal: 23 January 2003
Judul Artikel: PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL
Topik: Pendidikan Nasional

Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat.

Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang - menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?

Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.

PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL

Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama.

Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini.

Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).

Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan ("bangsat") dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.

Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.

Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.

Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai PT sang pendidik harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini.

Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau menginginkan generasi seperti diatas.

Selain itu, anggaran pendidikan yang tinggi belum tentu akan mengubah dengan cepat kondisi pendidikan kita saat ini. Malah anggaran yang tinggi akan menimbulkan KKN yang lebih lagi jika tidak ada kontrol yang ketat dan moralitas yang tinggi dari penguna anggaran tersebut. Dengan anggaran sekitar 6% saja KKN sudah merajalela, apalagi 20-25%.

Ketiga, Berlaku adil dan Hilangkan perbedaan. Ketika saya masih di SD dulu, ada beberapa guru saya sangat sering memanggil teman saya maju kedepan untuk mencatat dipapan tulis atau menjawab pertanyaan karena dia pintar dan anak orang kaya. Hal ini juga berlanjut sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Yang saya rasakan adalah sedih, rendah diri, iri dan putus asa sehingga timbul pertanyaan mengapa sang guru tidak memangil saya atau yang lain. Apakah hanya yang pintar atau anak orang kaya saja yang pantas mendapat perlakuan seperti itu.? Apakah pendidikan hanya untuk orang yang pintar dan kaya? Dan mengapa saya tidak jadi orang pintar dan kaya seperti teman saya? Bisakah saya jadi orang pintar dengan cara yang demikian?

Dengan contoh yang saya rasakan ini (dan banyak contoh lain yang sebenarnya ingin saya ungkapkan), saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional kita telah berlaku tidak adil dan membuat perbedaan diantara peserta didik. Sehingga generasi muda kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana berlaku tidak adil dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau kelas akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta didik, orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum tentu memang unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena KKN. Yang tidak masuk kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul otaknya tapi karena dananya tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi, yang sibuk bukan peserta didik, tapi para orang tua mereka mencari jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk kelas tersebut.

Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa menumbuhkan peserta didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan bertanggungjawab. Jangan hanya mengadopsi sistem bangsa lain yang belum tentu cocok dengan karakter bangsa kita. Karena itu, pembukaan kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau kembali kalau perlu hilangkan saja.

Contoh lain lagi , seorang dosen marah-marah karena beberapa mahasiswa tidak membawa kamus. Padahal Dia sendiri tidak pernah membawa kamus ke kelas. Dan seorang siswa yang pernah belajar dengan saya datang dengan menangis memberitahu bahwa nilai Bahasa Inggrisnya 6 yang seharusnya 9. Karena dia sering protes pada guru ketika belajar dan tidak ikut les dirumah guru tersebut. Inikan! contoh paling sederhana bahwa pendidikan nasional kita belum mengajarkan bagaimana berlaku adil dan menghilangkan Perbedaan.

PEJABAT HARUS SEGERA BERBENAH DIRI DAN MENGUBAH PERILAKU

Kalau kita menginginkan generasi penerus yang bermoral, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Maka semua pejabat yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif harus berbenah diri dan memberi contoh dulu bagaimana jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok kepada generasi muda mulai saat ini.

Karena mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan dan tidak sedikit pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli obral). Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim pendidikan nasional selama ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan bahwa mereka orang yang berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong dan curang. Apabila tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung mereka (pejabat) sudah memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan salahkan jika generasi mudah saat ini meniru apa yang mereka (pejabat) telah lakukan . Karena mereka telah merasakan, melihat dan mengalami yang telah pejabat lakukan terhadap bangsa ini.

Selanjutnya, semua pejabat di negara ini mulai saat ini harus bertanggungjawab dan konsisten dengan ucapannya kepada rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan terhadap mereka mau dibawah kemana negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat kita, lain dulu lain sekarang. Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji kepada rakyat, nanti begini, nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung kepentingan rakyat. Dan setelah diangkat, lain lagi perbuatannya. Contoh sederhana, kita sering melihat di TV ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak yang kosong atau ada yang tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal mereka sudah digaji, bagaimana mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Kalau ke kantor hanya untuk tidur atau tidak datang sama sekali. Atau ada pengumuman di Koran, radio atau TV tidak ada kenaikan BBM, TDL atau tariff air minum. Tapi beberapa minggu atau bulan berikutnya, tiba-tiba naik dengan alasan tertentu. Jadi jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?

Harapan, dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.

Tapi para pemimpin bangsa ini tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan saja. Karena itu, mulai sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi hingga terendah di legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera menghentikan segala bentuk petualangan mereka yang hanya ingin mengejar kepentingan pribadi atau kelompok sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara. Sehingga generasi muda Indonesia memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini kedepan.

Sumber

Amirul Mukminin
Staf Pengajar UPT - Kebahasaan UNJA /ASM Jambi,
Manejer LPK Bahasa Inggris -MEC di Jambi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar